Suatu
malam....
“Ma,
Fanny tidur dulu ya!” pamit Fanny dari dalam kamar.
“Iya
sayang, Fanny sudah sikat gigi belum?” tanya Mama dari lantai bawah.
“Oh
iya,” Fani teringat. Akhirnya Fanny segera berlari ke kamar mandi untuk sikat
gigi dan berwudhu.
“Sudah
Ma!” jawab Fanny.
“Kalau
sudah, sana tidur, jangan lupa berdoa dulu!” mama mengingatkan Fanny.
“Iya,”jawab
Fanny singkat. Akhirnya, kurang dari satu menit Fanny sudah tertidur lelap. Dia
bermimpi bahwa dia berada di dunia peri, ada Peri kesehatan, Peri ketertiban,
Peri keamanan, Peri kebaikan dan lain-lain di dunia Peri. Saat itu, Fanny
berada disana dan merasa takjub melihat keindahan dunia Peri. kemudian, Fanny
dipanggil oleh peri kesehatan.
“Hai
gadis cilik yang manis, aku Peri pemandu, namaku Peri Lucy, kenapa kamu memakai
kacamata?”Tanya Peri Lucy.
“Halo
Peri Kesehatan alias Peri Lucy, namaku Fanny, aku memakai kacamata karena minus
dan silinder.”Jelas Fanny.
“Kalau
begitu, mari ikut Peri Lucy ke Fairy Hospital untuk memeriksa mata Fanny,”ajak
Peri Lucy.
“Baiklah
Peri Lucy, ngomong-ngomong, aku ini dimana?” tanya Fanny kepada Peri Lucy.
“Oh,
kamu sekarang berada di Fairy Island, dimana seorang peri tinggal,”Jelas Peri
Lucy. “Sekarang kita sudah sampai di Fairy Hospital yuk masuk, tidak usah
takut-takut,”ajak Peri Lucy.
“Iy..iya
Peri Lucy,”jawab Fanny terbata-bata. Fanny melihat banyak dokter peri, peri
bidan, dan peri yang lain. Dia sangat ketakutan didalam Fairy Hospital,
rasanya, Fanny ingin kabur dan berlari sekencang mungkin. Tetapi, tak lama
kemudian, Fanny merasa betah disana, karena Peri-peri disana murah dan baik
hati.
“Sekarang,
Fanny duduk dikursi khusus, lalu akan dicek sama Dokter Peri, kenalkan, ini
Peri Lily. Peri Lucy harus tunggu diluar ya! Jangan takut ya Fanny?”Ingat Peri
Lucy. Begitu diperiksa, mata Fanny silinder 1 dan minus 4.
“Wah
matanya adik ini, minusnya tinggi, jadi adik diberi kacamata khusus agar minus
dan silindernya turun.” jelas Peri Lily.
“Ya
sudah, terima kasih Dokter peri Lily,” kata Fanny dengan senyum yang manis.
“Oh
iya, nama adik siapa?” tanya Dokter Peri Lily.
“Nama
saya Fanny,” jawab Fanny.
“Saya
punya hadiah untuk adik Fanny karena berani matanya dicek,” kata dokter peri
Lily. Fani terkejut dan juga senang.
“Ini
hadiahnya, stiker, kalau tidak suka, tidak apa,” kata peri lily sambil
memberikan stiker tersebut kepada Fanny.
“Oh,
terima kasih banyak dokter Peri Lily,” jawab Fanny. Saat keluar ruangan Fanny
ditunggu Peri Lucy.
“Gimana
Fanny? Tidak takut kan? Itu hadiah dari dokter peri Lily ya?” tanya Peri Lucy.
“Iya,
Fanny dikasih karena Fanny tadi tidak takut saat diperiksa,” jelas Fanny. Fanny
langsung terbangun.
“Oh,
tadi itu mimpi? Huh, seru banget disana, semoga, ini menjadi nyata,” gumam
Fanny. Fanny merasa ada benda yang membuat keras bantalnya. Saat dilihat
ternyata kacamata itu yang berwarna ungu dan biru saat Fanny mimpi di Fairy
island.
“Hah?
Kok ada disini? Coba aku pakai nanti saat disekolah, ini berhasil atau tidak
ya?”gumam Fanny sambil memegang kacamata yang diberikan Peri Lily saat dia
bermimpi. Tak terasa jam beker milik Fanny sudah berbunyi tandanya sudah
menujukkan pukul 4 pagi untuk sholat subuh dan mengaji.
“Berarti,
aku bangun lebih awal hari ini!” kata Fanny senang.
Akhirnya
Fanny mengambil wudhu dan segera memakai mukenah. jam sudah menujukkan pukul 4
lebih 20 menit. Adzan sholat subuh berkumandang. Fanny pun sholat subuh dengan
tuma'ninah. kemudian, Fanny ingin mengaji. Sebelum Fanny mengaji, dia terus
memandangi kacamata yang diberi peri saat mimpi.
"coba
aku pakai buat mengaji!" kata Fanny. Dia pun mengaji menggunakan kacamata
itu. Saat pertama kali diapakai semua yang dilihat sangat jelas dibanding
kacamata yang diberikan ayahnya.
"Wah, kacamata ajaib!" sorak
Fanny. Saat pagi hari, dia sarapan bersama dik Mira, ayah, mama, dan tentu
Fanny. Saat ke ruang makan. Ayah curiga melihat Fanny memakai kacamata itu.
“Fanny,
kamu dapat kacamata dari mana?” tanya Ayah heran.
“Anu,
aku dikasih peri Lily pas lagi mimpi,” jelas Fanny.
“Beneran?”
tanya Ayah tidak percaya.
“Ya
sudah, kalau Ayah tidak percaya,” kata Fanny. Fanny dan keluarganya menyantap
sarapan pagi yang nikmat. Disekolah, dia menjadi pintar dan rajin dibandingkan
teman-teman yang lain. dia sampai dibicarakan semua teman sekelasnya. Caca, dan
Fia, musuh Fanny berpura-pura baik sekali kepada Fanny.
“Fanny
yuk kita duduk bersama dikursi taman!” ajak Caca.
“Iya,
kita ngobrol bersama nanti,” kata Fia.
Sesampainya....
“Kami
heran, kok kamu bisa sepintar itu ya?" tanya Fia.
“Aku
rajin belajar dan selalu berdoa.” jawab Fanny. Tiba-tiba Caca langsung
berteriak.
“Bohong
kamu! Pasti itu gara-gara kacamatamu itu kan? Soalnya dari tadi aku lihat ada
yang aneh dengan kacamatamu itu!” teriak Caca.
“Iya,
makanya kita harus memilikinya agar bisa pintar seperti kamu!” kata Fia.
“Tidak
akan, itu spesial bagiku, itu pemberian peri dalam mimpiku!” tegas Fanny.
“Hah?
peri? Memangnya ada peri?!” bantah Fia.
“Kalau
kamu tidak mau, kami akan merusak kacamata berhagamu itu!” kata Caca. Mereka
langsung mengambil kacamata Fanny secara paksa dan mematahkannya. Fanny sedih,
padahal baru hari ini dia memakai ternyata sudah rusak juga.
"Kayaknya, bukan karena kacamata
itu yang bikin aku pintar, tapi memudahkan untuk melihat." gumam Fanny
pelan.
Keesokan harinya, ternyata betul dugaan
Fanny, dia masih tetap pintar karena rajin belajar, bukan karena kacamatanya.
Saat pelajaran matematika...
“50
%+17,5 % hasilnya berapa?” tanya Bu Sari, guru matematika. Semuanya menggeleng,
kecuali Caca yang mengangkat tangan.
“Ah, berarti semuanya enggak belajar, jawabannya adalah
67,5 %,” jawab Caca dengan sombong.
“Tenang
semuanya, itu hanya pertanyaan bab selanjutnya, pertanyaan bab ini yang kalian
pelajari adalah rumusnya volumenya kubus apa?” tanya Bu sari.
“SXSXS!”
jawab Fanny.
“Betul
sekali Fanny, terus, "S" itu artinya apa?” tanya Bu sari lagi.
Padahal, Fanny belum menjawab, Caca langsung menyela. “Sisi!”
“Salah
Caca, baiklah Fanny jawabannya apa?” tanya Bu Sari kepada Fanny.
“Rusuk,”jawab
Fanny.
“Betul
Sekali Fanny!”puji Bu Sari.
“Huh!”Keluh
Caca dan Fia kesal. Esoknya saat sampai di sekolah, Fanny dihampiri Fia dan
Caca.
“Fanny
maafin aku sudah jahat sama kamu,” kata Caca.
“Iya
aku juga, nih kacamata yang kami rusak kemarin, kami gantiin kok.” kata Fia
sambil menyerahkan Kacamata yang baru.
“Oh
iya, makasih ya, aku maafkan kok, tenang saja, kita bertiga berteman yuk!”ajak
Fanny. “Oke deh!”