Kamis, 17 November 2016

KACAMATA DARI PERI




Mimpinya indah, itulah yang selalu dialami Fanny Salsabila atau biasa dipanggil Fanny. Sejak kecil, Fanny diajarkan bagaimana tidur yang baik dan berdoa sebelum tidur.
 Suatu malam....
            “Ma, Fanny tidur dulu ya!” pamit Fanny dari dalam kamar.
            “Iya sayang, Fanny sudah sikat gigi belum?” tanya Mama dari lantai bawah.
            “Oh iya,” Fani teringat. Akhirnya Fanny segera berlari ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu.
            “Sudah Ma!” jawab Fanny.
            “Kalau sudah, sana tidur, jangan lupa berdoa dulu!” mama mengingatkan Fanny.
            “Iya,”jawab Fanny singkat. Akhirnya, kurang dari satu menit Fanny sudah tertidur lelap. Dia bermimpi bahwa dia berada di dunia peri, ada Peri kesehatan, Peri ketertiban, Peri keamanan, Peri kebaikan dan lain-lain di dunia Peri. Saat itu, Fanny berada disana dan merasa takjub melihat keindahan dunia Peri. kemudian, Fanny dipanggil oleh peri kesehatan.
            “Hai gadis cilik yang manis, aku Peri pemandu, namaku Peri Lucy, kenapa kamu memakai kacamata?”Tanya Peri Lucy.
            “Halo Peri Kesehatan alias Peri Lucy, namaku Fanny, aku memakai kacamata karena minus dan silinder.”Jelas Fanny.
            “Kalau begitu, mari ikut Peri Lucy ke Fairy Hospital untuk memeriksa mata Fanny,”ajak Peri Lucy.
            “Baiklah Peri Lucy, ngomong-ngomong, aku ini dimana?” tanya Fanny kepada Peri Lucy.
            “Oh, kamu sekarang berada di Fairy Island, dimana seorang peri tinggal,”Jelas Peri Lucy. “Sekarang kita sudah sampai di Fairy Hospital yuk masuk, tidak usah takut-takut,”ajak Peri Lucy.
            “Iy..iya Peri Lucy,”jawab Fanny terbata-bata. Fanny melihat banyak dokter peri, peri bidan, dan peri yang lain. Dia sangat ketakutan didalam Fairy Hospital, rasanya, Fanny ingin kabur dan berlari sekencang mungkin. Tetapi, tak lama kemudian, Fanny merasa betah disana, karena Peri-peri disana murah dan baik hati.
            “Sekarang, Fanny duduk dikursi khusus, lalu akan dicek sama Dokter Peri, kenalkan, ini Peri Lily. Peri Lucy harus tunggu diluar ya! Jangan takut ya Fanny?”Ingat Peri Lucy. Begitu diperiksa, mata Fanny silinder 1 dan minus 4.
            “Wah matanya adik ini, minusnya tinggi, jadi adik diberi kacamata khusus agar minus dan silindernya turun.” jelas Peri Lily.
            “Ya sudah, terima kasih Dokter peri Lily,” kata Fanny dengan senyum yang manis.
            “Oh iya, nama adik siapa?” tanya Dokter Peri Lily.
            “Nama saya Fanny,” jawab Fanny.
            “Saya punya hadiah untuk adik Fanny karena berani matanya dicek,” kata dokter peri Lily. Fani terkejut dan juga senang.
            “Ini hadiahnya, stiker, kalau tidak suka, tidak apa,” kata peri lily sambil memberikan stiker tersebut kepada Fanny.
            “Oh, terima kasih banyak dokter Peri Lily,” jawab Fanny. Saat keluar ruangan Fanny ditunggu Peri Lucy.
            “Gimana Fanny? Tidak takut kan? Itu hadiah dari dokter peri Lily ya?” tanya Peri Lucy.
            “Iya, Fanny dikasih karena Fanny tadi tidak takut saat diperiksa,” jelas Fanny. Fanny langsung terbangun.
            “Oh, tadi itu mimpi? Huh, seru banget disana, semoga, ini menjadi nyata,” gumam Fanny. Fanny merasa ada benda yang membuat keras bantalnya. Saat dilihat ternyata kacamata itu yang berwarna ungu dan biru saat Fanny mimpi di Fairy island.
            “Hah? Kok ada disini? Coba aku pakai nanti saat disekolah, ini berhasil atau tidak ya?”gumam Fanny sambil memegang kacamata yang diberikan Peri Lily saat dia bermimpi. Tak terasa jam beker milik Fanny sudah berbunyi tandanya sudah menujukkan pukul 4 pagi untuk sholat subuh dan mengaji.
            “Berarti, aku bangun lebih awal hari ini!” kata Fanny senang.
            Akhirnya Fanny mengambil wudhu dan segera memakai mukenah. jam sudah menujukkan pukul 4 lebih 20 menit. Adzan sholat subuh berkumandang. Fanny pun sholat subuh dengan tuma'ninah. kemudian, Fanny ingin mengaji. Sebelum Fanny mengaji, dia terus memandangi kacamata yang diberi peri saat mimpi.
            "coba aku pakai buat mengaji!" kata Fanny. Dia pun mengaji menggunakan kacamata itu. Saat pertama kali diapakai semua yang dilihat sangat jelas dibanding kacamata yang diberikan ayahnya.
"Wah, kacamata ajaib!" sorak Fanny. Saat pagi hari, dia sarapan bersama dik Mira, ayah, mama, dan tentu Fanny. Saat ke ruang makan. Ayah curiga melihat Fanny memakai kacamata itu.
            “Fanny, kamu dapat kacamata dari mana?” tanya Ayah heran.
            “Anu, aku dikasih peri Lily pas lagi mimpi,” jelas Fanny.
            “Beneran?” tanya Ayah tidak percaya.
            “Ya sudah, kalau Ayah tidak percaya,” kata Fanny. Fanny dan keluarganya menyantap sarapan pagi yang nikmat. Disekolah, dia menjadi pintar dan rajin dibandingkan teman-teman yang lain. dia sampai dibicarakan semua teman sekelasnya. Caca, dan Fia, musuh Fanny berpura-pura baik sekali kepada Fanny.
            “Fanny yuk kita duduk bersama dikursi taman!” ajak Caca.
            “Iya, kita ngobrol bersama nanti,” kata Fia.
Sesampainya....
            “Kami heran, kok kamu bisa sepintar itu ya?" tanya Fia.
            “Aku rajin belajar dan selalu berdoa.” jawab Fanny. Tiba-tiba Caca langsung berteriak.
            “Bohong kamu! Pasti itu gara-gara kacamatamu itu kan? Soalnya dari tadi aku lihat ada yang aneh dengan kacamatamu itu!” teriak Caca.
            “Iya, makanya kita harus memilikinya agar bisa pintar seperti kamu!” kata Fia.
            “Tidak akan, itu spesial bagiku, itu pemberian peri dalam mimpiku!” tegas Fanny.
            “Hah? peri? Memangnya ada peri?!” bantah Fia.
            “Kalau kamu tidak mau, kami akan merusak kacamata berhagamu itu!” kata Caca. Mereka langsung mengambil kacamata Fanny secara paksa dan mematahkannya. Fanny sedih, padahal baru hari ini dia memakai ternyata sudah rusak juga.
"Kayaknya, bukan karena kacamata itu yang bikin aku pintar, tapi memudahkan untuk melihat." gumam Fanny pelan.
Keesokan harinya, ternyata betul dugaan Fanny, dia masih tetap pintar karena rajin belajar, bukan karena kacamatanya.
Saat pelajaran matematika...
            “50 %+17,5 % hasilnya berapa?” tanya Bu Sari, guru matematika. Semuanya menggeleng, kecuali Caca yang mengangkat tangan.
            “Ah, berarti semuanya enggak belajar, jawabannya adalah 67,5 %,” jawab Caca dengan sombong.
            “Tenang semuanya, itu hanya pertanyaan bab selanjutnya, pertanyaan bab ini yang kalian pelajari adalah rumusnya volumenya kubus apa?” tanya Bu sari.
            “SXSXS!” jawab Fanny.
            “Betul sekali Fanny, terus, "S" itu artinya apa?” tanya Bu sari lagi. Padahal, Fanny belum menjawab, Caca langsung menyela. “Sisi!”
            “Salah Caca, baiklah Fanny jawabannya apa?” tanya Bu Sari kepada Fanny.
            “Rusuk,”jawab Fanny.
            “Betul Sekali Fanny!”puji Bu Sari.
            “Huh!”Keluh Caca dan Fia kesal. Esoknya saat sampai di sekolah, Fanny dihampiri Fia dan Caca.
            “Fanny maafin aku sudah jahat sama kamu,” kata Caca.
            “Iya aku juga, nih kacamata yang kami rusak kemarin, kami gantiin kok.” kata Fia sambil menyerahkan Kacamata yang baru.
            “Oh iya, makasih ya, aku maafkan kok, tenang saja, kita bertiga berteman yuk!”ajak Fanny. “Oke deh!”









Tidak ada komentar:

Posting Komentar